×

Pencarian

Ekonomi Bengkulu Tahan Guncangan Dunia! Ini Strategi “Rahasia” Jaga Stabilitas di Tengah Konflik Global

KABARDARING.ID – Di tengah memanasnya geopolitik global yang berpotensi mengguncang ekonomi dunia, Pemerintah Provinsi Bengkulu justru menunjukkan ketahanan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Hal ini terungkap dalam Sarasehan Perekonomian Bengkulu 2026 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Kamis (9/4), dengan tema besar sinergi moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas produksi dan distribusi.

Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu melalui Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, RA Denni, mengungkapkan capaian ekonomi Bengkulu tahun 2025 yang tumbuh 4,82 persen. Angka ini naik dibandingkan tahun sebelumnya dan nyaris menyamai rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatra.

“Ini bukti bahwa ekonomi Bengkulu tetap kuat meski tekanan global meningkat,” ujarnya.

Sarasehan Perekonomian Bengkulu 2026 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Kamis (9/4)

Tak hanya itu, inflasi Bengkulu juga terjaga di angka 2,7 persen sepanjang 2025, menandakan daya beli masyarakat relatif stabil.

Sektor pertanian, perkebunan (kelapa sawit dan kopi), perikanan, serta perdagangan masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Pemerintah pun terus menggenjot program strategis mulai dari ketahanan pangan, cetak sawah, hingga penguatan UMKM.

Sarasehan Perekonomian Bengkulu 2026 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Kamis (9/4)

Namun, tantangan tetap mengintai.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, memprediksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 berada di kisaran 4,47–5,03 persen. Ia mengingatkan adanya potensi perlambatan akibat penurunan transfer ke daerah hingga 20,38 persen serta belum pulihnya sektor pertambangan.

Sementara itu, inflasi pada Maret 2026 tercatat 2,85 persen, masih lebih rendah dibandingkan nasional. Mukomuko menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, sedangkan Kota Bengkulu relatif lebih terkendali.

Di sisi lain, perkembangan digitalisasi makin menggila. Hingga akhir 2025, pengguna QRIS di Bengkulu tembus 267 ribu lebih, dengan lebih dari 229 ribu merchant telah bergabung.

Dari sisi fiskal, kinerja keuangan negara juga menunjukkan tren positif. Pendapatan negara tumbuh 24,18 persen, sementara belanja meningkat 25,33 persen hingga Februari 2026.

Meski begitu, bayang-bayang krisis global tetap menjadi ancaman serius.

Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri, Dendi Ramdani, mengingatkan potensi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran–Israel. Dalam skenario terburuk, harga minyak bisa menembus 132 dolar AS per barel!

“Jika konflik meluas, dampaknya akan terasa ke seluruh dunia, termasuk Indonesia,” tegasnya.

Namun kabar baiknya, sejumlah sektor tetap dinilai tahan banting, seperti telekomunikasi, kesehatan, industri hilir, makanan-minuman, hingga sektor pemerintahan.

Dengan kombinasi strategi fiskal dan moneter yang terus diperkuat, Bengkulu optimistis mampu bertahan. Bahkan melaju di tengah badai ketidakpastian global. ***