×

Pencarian

Kasus Campak Turun 93 Persen, Kemenkes Tetap Siaga: 14 Provinsi Masih Jadi Sorotan

KABARDARING.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap tren penurunan kasus campak di Indonesia hingga mencapai 93 persen pada minggu ke-12 tahun 2026. Meski begitu, pengawasan ketat tetap dilakukan karena sebelumnya penyakit ini sempat memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah daerah.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan penurunan kasus terjadi cukup signifikan dibanding awal tahun 2026.

“Pada minggu pertama tahun 2026 jumlah kasus campak mencapai 2.220 kasus. Sementara pada minggu ke-12 turun menjadi 146 kasus. Jadi terjadi penurunan kurang lebih 93 persen,” ujar dr. Andi Saguni dalam konferensi pers di Jakarta.

Menurutnya, tren penurunan tersebut terlihat konsisten di 14 provinsi serta 10 kabupaten/kota yang sebelumnya sempat mengalami lonjakan kasus campak pada akhir 2025 hingga awal 2026.

Meski angka kasus menurun drastis, Kemenkes memastikan sistem pengawasan dan surveilans tetap berjalan optimal di seluruh daerah.

“Sistem surveilans tetap berjalan optimal. Pengawasan dilakukan secara real-time melalui metode New All Record (NAR) dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dari fasilitas kesehatan, yang kemudian diverifikasi silang dengan dinas kesehatan daerah,” jelasnya.

Kemenkes juga menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan karena campak merupakan penyakit menular yang dapat menyebar cepat, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Sejumlah wilayah yang sebelumnya masuk kategori perhatian khusus di antaranya Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Sumatera Selatan.

Selain memperketat pengawasan, pemerintah juga terus mendorong masyarakat melengkapi imunisasi campak-rubela guna mencegah munculnya lonjakan kasus baru.

Kemenkes mengimbau masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala campak seperti demam tinggi, ruam merah pada kulit, batuk, pilek, hingga mata merah.

“Meski trennya menurun, kewaspadaan masyarakat tetap penting agar penyebaran campak bisa terus ditekan,” tambah dr. Andi Saguni.  ***