KABARDARNG.ID - Ketegangan panas antara Iran dan Amerika Serikat akhirnya mereda. Pada Selasa (7/4), kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan setelah konflik yang berlangsung sejak 28 Februari.
Namun, di balik kesepakatan ini, Iran justru tampil percaya diri. Teheran mengklaim bahwa gencatan senjata terjadi setelah Amerika Serikat menerima 10 poin tuntutan penting yang diajukan mereka.
Pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bahkan menyebut momen ini sebagai “kemenangan”, sembari mengajak rakyat tetap solid dan merayakan hasil tersebut.
Salah satu poin krusial adalah dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan dunia yang sebelumnya ditutup akibat operasi militer AS dan Israel.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memastikan bahwa jalur aman akan dibuka selama masa gencatan dengan pengawasan militer Iran.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru mengklaim sebaliknya. Ia menyebut Amerika telah “melampaui target militer” dan menyatakan kesepakatan ini sebagai langkah menuju perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.
Trump juga mengungkap bahwa proposal 10 poin dari Iran telah diterima sebagai dasar negosiasi lanjutan, dan bahkan menyebut hampir semua perbedaan sudah dijembatani.
Dua pekan ke depan pun akan menjadi penentu: apakah ini benar-benar awal perdamaian, atau hanya jeda sebelum konflik berikutnya meledak.
