KABARDARING.ID – Gelombang mudik Lebaran 2026 mencapai puncaknya. Hingga H-1, jumlah masyarakat yang melakukan perjalanan menggunakan angkutan umum menembus angka 10 juta orang, menandai lonjakan signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Data dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mencatat, sejak H-8 hingga H-1, total pergerakan penumpang mencapai 10.003.583 orang atau naik sekitar 9,23 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Moda transportasi kereta api menjadi pilihan utama masyarakat dengan jumlah penumpang hampir menyentuh 3 juta orang. Disusul angkutan penyeberangan dan udara yang masing-masing mencatat jutaan pengguna. Sementara itu, transportasi darat dan laut tetap menunjukkan kontribusi signifikan dalam mengakomodasi arus mudik nasional.
Tidak hanya penumpang, lonjakan juga terjadi pada pergerakan kendaraan. Di kawasan Jabodetabek, ratusan ribu kendaraan tercatat keluar-masuk melalui gerbang tol maupun jalur arteri. Volume kendaraan yang tinggi ini mencerminkan mobilitas masyarakat yang masif menjelang Hari Raya.
Pada H-1 saja, hampir satu juta orang melakukan perjalanan mudik dengan berbagai moda transportasi. Kereta api dan pesawat menjadi penyumbang terbesar, diikuti penyeberangan, bus, hingga kapal laut.
Dari sisi layanan, ketepatan waktu angkutan umum terpantau cukup baik. Kereta api mencatat performa tertinggi dengan tingkat ketepatan di atas 98 persen, sementara moda lain seperti laut dan udara juga menunjukkan kinerja yang relatif stabil, meski masih terdapat beberapa tantangan di sektor tertentu.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa pengelolaan arus mudik tahun ini dilakukan secara terpadu dengan pengawasan intensif di berbagai titik transportasi, guna memastikan perjalanan tetap aman, lancar, dan nyaman.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub, Ernita Titis Dewi, mengingatkan masyarakat untuk mulai mengantisipasi arus balik yang diprediksi mencapai puncaknya pada 24 Maret 2026 atau H+3.
Ia mengimbau pemudik agar merencanakan perjalanan dengan matang, menghindari waktu puncak, serta memanfaatkan alternatif jadwal guna mengurangi kepadatan.
Selain itu, kondisi kesehatan dan kesiapan perjalanan juga menjadi perhatian utama. Masyarakat diminta memastikan tubuh dalam kondisi prima, membawa kebutuhan pribadi, serta memilih moda transportasi resmi demi keselamatan.
“Disiplin mengikuti arahan petugas di lapangan menjadi kunci agar arus balik berjalan tertib dan lancar,” ujarnya.
Dengan tingginya mobilitas tahun ini, sinergi antara pemerintah, operator transportasi, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran arus mudik dan balik Lebaran 2026. ***
