KABARDARING.ID – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam pada Minggu, 22 Februari 2026, belum mengalami perubahan.
Berdasarkan laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam masih bertengger di angka Rp 3.012.000 per gram.
Sementara itu, harga buyback atau harga beli kembali juga belum bergerak, tetap di posisi Rp 2.793.000 per gram.
Selisih Harga (Spread) Rp 219.000 per Gram
Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga buyback hari ini mencapai Rp 219.000 per gram.
Selisih ini menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan calon investor emas.
Harga emas yang tertera merupakan harga ketika konsumen membeli emas dari gerai Logam Mulia. Adapun harga buyback adalah harga yang berlaku saat konsumen menjual kembali emas tersebut ke gerai resmi.
Artinya, jika pagi ini Anda membeli emas seharga Rp 3.012.000 per gram, lalu di hari yang sama menjualnya kembali, emas tersebut hanya akan dihargai Rp 2.793.000 per gram.
Emas Cocok untuk Jangka Panjang
Dengan spread yang cukup lebar, investasi emas umumnya lebih ideal untuk jangka panjang. Kenaikan harga yang signifikan dalam periode waktu tertentu diharapkan mampu menutup selisih harga beli dan buyback, sekaligus memberikan keuntungan.
Berikut ilustrasi potensi untung/rugi jika menjual emas hari ini berdasarkan harga beli di masa lalu:
Beli 14 Februari 2026 (Rp 2.954.000) = -5,45% (rugi)
Beli 21 Januari 2026 (Rp 2.805.000) = -0,43% (rugi)
Beli 21 November 2025 (Rp 2.348.000) = 18,95% (untung)
Beli 21 Agustus 2025 (Rp 1.914.000) = 45,92% (untung)
Beli 21 Mei 2025 (Rp 1.915.000) = 45,85% (untung)
Beli 21 Februari 2025 (Rp 1.707.000) = 63,62% (untung)
Beli 21 November 2024 (Rp 1.508.000) = 85,21% (untung)
Beli 21 Agustus 2024 (Rp 1.415.000) = 97,39% (untung)
Beli 21 Mei 2024 (Rp 1.358.000) = 105,67% (untung)
Data tersebut menunjukkan bahwa semakin panjang periode kepemilikan, potensi keuntungan semakin besar, meskipun tetap bergantung pada dinamika harga pasar.
Investor disarankan mencermati dua jenis harga ini sebelum memutuskan transaksi, agar tidak keliru dalam menghitung potensi keuntungan maupun risiko. ***

