KABAR DARING — Pemerintah Provinsi Bengkulu memilih jalur yang tak biasa untuk membangun daerah: bukan hanya lewat anggaran dan proyek, tetapi lewat hati dan keyakinan.
Melalui program Retreat Merah Putih, Pemprov Bengkulu mengirimkan ratusan peserta ke masjid-masjid di berbagai wilayah untuk menjalani pengalaman spiritual dan sosial selama beberapa hari. Tujuannya bukan seremonial, melainkan menghidupkan kembali peran masjid sebagai pusat pembentukan karakter, solidaritas, dan nilai moral masyarakat.
Program ini dilepas langsung oleh Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, dari Masjid Raya Baitul Izzah pada 8 Januari 2026. Dari sana, para peserta bergerak ke berbagai titik di Bengkulu, membawa misi sederhana namun besar: membangunkan masjid yang sepi dan menyapa masyarakat yang lama tak disentuh pembinaan rohani.
Selama tiga hari, peserta tinggal bersama warga. Mereka ikut salat berjamaah, berdialog dengan jamaah, mengisi kegiatan keagamaan, hingga membantu aktivitas sosial di sekitar masjid. Di banyak tempat, masjid yang sebelumnya hanya ramai saat Jumat mendadak hidup setiap waktu.
Bagi sebagian peserta, pengalaman itu menjadi titik balik. Banyak yang mengaku baru merasakan kembali kedekatan dengan agama setelah bertahun-tahun terjebak rutinitas birokrasi dan urusan duniawi.
Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, menegaskan bahwa program ini tidak akan berhenti di satu angkatan. Seluruh aparatur sipil negara di lingkungan Pemprov Bengkulu direncanakan akan mengikuti retreat ini secara bertahap.
“Kami ingin nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial benar-benar hidup dalam diri ASN, bukan hanya tertulis di slogan,” ujarnya saat penutupan kegiatan.
Pemprov Bengkulu bahkan membuka peluang untuk memperpanjang durasi retreat di masa depan, agar dampaknya lebih terasa di masyarakat.
Bagi Pemprov, Retreat Merah Putih bukan sekadar kegiatan keagamaan. Ia adalah eksperimen sosial: menguji apakah perubahan besar bisa dimulai dari perubahan kecil di dalam diri manusia.
Dan di tengah tantangan birokrasi dan persoalan daerah, Bengkulu sedang mencoba satu hal berani—membangun masa depan bukan hanya dengan kebijakan, tetapi juga dengan iman dan karakter. **
