Di Jalan Padang Jati, Kec. Ratu Saban, Kota Bengkulu, parkiran kendaraan panjang mulai terbentuk. Ada papan nama mencolok atau desain kekinian layaknya pesta kuliner. Belungguk Point. Katanya mirip Malioboro Jogja. Belungguk, bahasa Rejang yang berarti berkumpul atau menumpuk.
Lapak itu ramai dikunjungi warga yang sedang yang ingin menikmati libur Nataru di pusat kota. Beruntung, Sabtu, 27 Desember 2025, suasana berbeda terlihat. Tidak ada tanda-tanda membuat kawasan tersebut sepi.
LANGIT Kota Bengkulu tampak murung sejak Sabtu sore. Awan gelap perlahan menggantung di atas langit, seakan menyimpan hujan yang siap ditumpahkan kapan saja. Di bawah langit yang menggelayut berat itu, para pengunjung mulai bersiap-siap. Terutama yang menggunakan kendaraan roda dua.
Suasana sore itu seperti biasa menyimpan harapan. Minuman dan makanan mulai dimasak, penjual lapak mengangkut bahan makanan minuman berharap Sabtu malam akan membawa banyak pengunjung, seperti yang selama ini terjadi.
Kawasan kuliner ini tambah ramai setelah adanya penampilan disk jockey (Dj) sekitar pukul 21.00 WIB di tengah kerumunan. Sekaligus penampilan artis lokal.
Sekitar 500 alat musik Dol akan dimainkan bersama oleh siswa SD, SMP, serta perwakilan dari Dewan Kesenian Bengkulu, membuat situasi tambah ramai.
Namun kenyataan tidak seindah harapan. Rintik-rintik hujan mulai terdengar memukul atap tenda dan jalanan sekitar pukul 22.30 WIB. Tanpa aba-aba, langit menumpahkan hujan dengan deras.
Meja yang terlanjur diletakkan di trotoar buru-buru disingkirkan. Plastik-plastik besar dibentangkan untuk melindungi makanan dan barang dagangan dari tampias air hujan.
Trotoar tempat pengunjung duduk telah basah. Hujan tidak hanya mengusir keramaian, tetapi juga memadamkan semangat sebagian pedagang yang berharap pada Jumat Minggu.
Namun tengah malam, langit perlahan mereda. Hujan itu habis, hujan itu berhenti, menyisakan rintik-rintik kecil yang cepat mengering di atas aspal hangat. Beberapa pedagang mulai kembali menyusun kembali peralatan mereka. Meja dan tikar digelar ulang, tenda dibersihkan dari genangan air. Seolah memberi ucapan selamat datang, mereka bersiap menyambut pengunjung yang mulai berdatangan kembali dengan harapan baru.
Langit pasca hujan membawa nuansa tenang. Udara dingin justru membuat kawasan terasa lebih nyaman. Lampu-lampu tenda mulai menyala, begitupun lampu belungguk point. Anggaran untuk proyek Belungguk Point di Jalan S. Parman, Bengkulu, dialokasikan mencapai Rp10,8 miliar.
Ia menciptakan kilau cahaya yang memantul di permukaan jalan yang masih basah. Beberapa pengunjung yang datang membawa keluarga, teman sambil menikmati makanan atau minuman Suasana kembali hidup.
Sayangnya, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Malam semakin larut, menjelang pukul 23.30 WIB, gerimis kembali turun.
Satu per satu pengunjung mulai bangkit dari tempat duduk. Sebagian memilih langsung pulang, sementara yang lain berlarian mencari tempat berteduh.
Lapak kembali gelap dan lengang. Hujan yang turun lagi seakan menutup buku malam Minggu kali itu. Trotoar yang semula penuh tawa kini basah dan sepi.
Semakin larut maka satu per satu lapak dagangan dilipat, menandai berakhirnya malam yang tak sempat ramai. Begitulah nasib kawasan kuliner yang bergantung pada cuaca, kadang ramai dan penuh kehidupan, namun di malam hujan seperti ini, sunyi yang datang lebih dahulu.
Catatan Seorang Jurnalis, 27 Desember 2025 di Kota Bengkulu
