×

Pencarian

BMKG Prediksi Kemarau Ekstrem 2026, Pemprov DKI dan PAM Jaya Pastikan Pasokan Air Tetap Aman

KABARDARING.ID – Peringatan potensi kemarau ekstrem tahun 2026 yang disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memicu kekhawatiran publik, terutama terkait ketersediaan air bersih di ibu kota. Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PAM Jaya memastikan layanan air bagi masyarakat tetap terjaga.

Berdasarkan rilis BMKG pada 10 Maret 2026, Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, menyusul berakhirnya fenomena La Niña lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Februari 2026. Kondisi ini berpotensi memicu kemarau lebih panjang dan ekstrem di sejumlah wilayah.

Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta menegaskan telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga produksi dan distribusi air tetap optimal, termasuk dalam skenario terburuk sekalipun.

Saat ini, mayoritas pasokan air baku PAM Jaya masih bergantung pada Waduk Jatiluhur, dengan kontribusi mencapai sekitar 92 persen atau setara 19.400 liter per detik. Sumber ini dikelola melalui kerja sama dengan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Sementara itu, sekitar 8 persen sisanya berasal dari berbagai sumber air permukaan di Jakarta, seperti Kali Ciliwung, Sungai Pesanggrahan, hingga Kanal Banjir Barat.

Untuk memperkuat layanan, PAM Jaya terus mengembangkan infrastruktur melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di sejumlah titik, mulai dari Buaran, Pejompongan, Pesanggrahan, hingga Cilandak. Jumlah fasilitas ini ditargetkan meningkat hingga 18 unit pada 2029.

Selain mengandalkan sumber utama, PAM Jaya juga tengah menjajaki tambahan pasokan dari Bendungan Karian sebagai langkah diversifikasi air baku. Saat ini, total kapasitas produksi air telah mencapai lebih dari 22 ribu liter per detik.

Kendati kemarau berpotensi menurunkan debit air, khususnya dari sungai-sungai di wilayah hulu seperti Bogor dan Puncak, dampaknya dinilai masih terkendali karena kontribusinya relatif kecil. Bahkan untuk sumber utama seperti Waduk Jatiluhur, skenario kekeringan total dinilai kecil kemungkinan terjadi. Upaya seperti modifikasi cuaca atau hujan buatan pun dapat dilakukan sebagai langkah antisipasi.

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta juga terus mengembangkan berbagai inovasi sumber air alternatif, mulai dari teknologi desalinasi air laut, pengolahan air limbah menjadi air layak konsumsi, hingga pemanfaatan teknologi penangkapan air dari udara (atmospheric water harvesting).

Pemerintah juga menargetkan cakupan layanan air minum mencapai 100 persen pada 2029, dengan kebutuhan pasokan sekitar 32.950 liter per detik. Sejak pengelolaan air sepenuhnya diambil alih PAM Jaya pada 2023, capaian layanan terus meningkat signifikan, kini telah menjangkau lebih dari 80 persen warga Jakarta.

Tak hanya itu, perluasan jaringan perpipaan, peningkatan jumlah sambungan rumah, serta penurunan tingkat kehilangan air (non-revenue water) juga terus dilakukan sebagai bagian dari reformasi layanan.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Pemprov DKI Jakarta dan PAM Jaya optimistis mampu menghadapi tantangan kemarau ekstrem 2026 tanpa mengganggu kebutuhan dasar masyarakat.

Komitmen ini sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan air di Jakarta terus bergerak ke arah yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pada pelayanan publik. ***