KABARDARING.ID – Provinsi Aceh menjadi wilayah paling parah terdampak bencana alam di Pulau Sumatera, dengan jumlah korban jiwa tertinggi serta puluhan desa dilaporkan hilang akibat longsor dan banjir besar.
Tito Karnavian menyampaikan, berdasarkan laporan terbaru, jumlah korban meninggal dunia di Aceh mencapai 562 orang, sementara 29 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
“Untuk Aceh yang wafat 562 orang, yang menghilang 29 orang, dan pengungsi yang semula sekitar 4 juta kini tersisa 12.114 orang yang masih berada di tenda,” ujar Tito dalam rapat koordinasi bersama DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026) dikutip Kantor Berita RMOL.ID
Selain korban jiwa, tingkat kerusakan fisik di Aceh juga tercatat paling besar dibandingkan provinsi lain di Sumatera. Dari total 23 kabupaten dan kota, sebanyak 18 wilayah terdampak bencana.
Data pemerintah menunjukkan sekitar 296.000 unit rumah mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang, hingga berat. Kerusakan juga meliputi fasilitas kesehatan, jembatan, rumah ibadah, jalan, serta lahan pertanian dan perkebunan masyarakat.
Yang paling memprihatinkan, bencana tersebut menyebabkan sejumlah desa hilang akibat tertimbun longsor maupun tersapu banjir bandang.
“Ada 29 desa yang hilang karena longsor atau banjir. Di Aceh paling banyak, yaitu 21 desa yang menghilang, tersebar di Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Gayo Lues,” jelas Tito.
Sebagai perbandingan, dampak bencana di provinsi lain di Sumatera juga cukup besar. Di Sumatera Utara, korban meninggal tercatat 376 orang dengan 40 orang hilang, sementara jumlah pengungsi kini tersisa sekitar 850 orang yang terpusat di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Sementara itu, di Sumatera Barat, korban meninggal dunia mencapai 267 orang dan 70 orang masih dinyatakan hilang, dengan sebagian besar pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.
Dalam upaya penanganan darurat, pemerintah pusat telah mengerahkan sekitar 90.190 personel gabungan sejak awal bencana. Personel tersebut terdiri dari unsur TNI, BNPB, serta berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Selain itu, dukungan logistik dan peralatan juga terus dikirimkan, termasuk alat berat, pesawat, helikopter, dan kapal untuk membantu evakuasi serta membuka akses ke wilayah yang terisolasi.
Tito menegaskan, bencana yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera didominasi longsor akibat curah hujan ekstrem, serta banjir di daerah aliran sungai. Ia menyebut peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk memperkuat sistem mitigasi, logistik, dan kesiapsiagaan bencana, khususnya di daerah rawan dengan akses terbatas. ***
