×

Pencarian

Ramadan dan Prapaskah Bertemu: Momen Kerukunan dan Pertobatan Ekologis

Oleh: Pormadi Simbolon (Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten)

Februari 2026 menghadirkan sebuah momen istimewa sekaligus bermakna bagi Indonesia, yaitu bulan Ramadan bagi umat Islam (diperkirakan 20 atau 21 Februari ) bertemu atau beririsan dengan masa Prapaskah bagi umat Katolik (dimulai pada Rabu Abu, 18 Februari). 

Di tengah masyarakat majemuk yang kerap diuji oleh polarisasi identitas, pertemuan dua masa latihan rohani ini menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar toleransi seremonial. Ia membuka ruang saling memahami, memperdalam kerukunan, dan yang sering terlewat, membangun pertobatan ekologis bersama.

Dalam kehidupan sehari-hari, puasa dan pantang sering dipersempit sebagai ritual individual. Padahal, dalam tradisi keagamaan, keduanya adalah pendidikan batin yang berdampak sosial. Puasa meskipun dalam praktiknya berbeda bagi kedua agama, substansinya adalah melatih manusia mengendalikan diri, menunda hasrat, dan menyadari keterbatasan. 

Pantang dalam iman Katolik menumbuhkan kepekaan terhadap apa yang selama ini dianggap wajar: makanan berlimpah, air yang terus mengalir, energi yang dihamburkan. Ketika disiplin rohani ini dijalani bersamaan oleh jutaan orang lintas iman, ia berpotensi menjadi gerakan moral kolektif.

Bukan Sekedar "Tidak Saling Ganggu"

Pada umumnya, kerukunan sering dipahami sebagai “tidak saling mengganggu”. Definisi ini penting, tetapi belum cukup. Kerukunan yang matang justru tumbuh dari pengalaman bersama, dari kesediaan untuk memahami apa yang dijalani orang lain. Saat siswa Muslim berpuasa di sekolah yang juga memiliki siswa Katolik yang sedang berpantang, atau ketika keluarga Katolik menghormati suasana Ramadan di lingkungan tempat tinggalnya, yang tumbuh bukan sekadar sopan santun, melainkan empati. Empati inilah fondasi kerukunan yang tahan uji.

Lebih jauh, puasa dan pantang mengajarkan satu pesan kunci yang sangat relevan dengan krisis zaman ini: hidup secukupnya. Dunia hari ini tidak kekurangan produksi, tetapi kekurangan pengendalian diri. Banjir, kekeringan, krisis pangan, dan perubahan iklim tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup berlebihan. Dalam konteks ini, puasa dan pantang menemukan relevansinya yang paling aktual. Menahan diri dari konsumsi berlebih berarti mengurangi tekanan terhadap bumi.

Di sinilah makna pertobatan ekologis menjadi nyata. Ini relevan dengan arah dasar Keuskupan Agung Jakarta dan program prioritas Kementerian Agama. Keuskupan Agung Jakarta, seturut arah dasarnya, mengajak umat Katolik untuk melakukan pertobatan ekologis. Kementerian Agama dalam program prioritas 2025-2029 mengarusutamakan aksi ekoteologis lintas iman sebagai wujud membangun dunia sebagai rumah bersama yang lestari dan sehat. 

Pertobatan bukan hanya soal dosa personal, tetapi juga tentang cara manusia berelasi dengan alam. Tradisi Katolik, misalnya, melalui refleksi ekologis yang ditegaskan dalam Laudato Si’, mengajak umat melihat bumi sebagai rumah bersama, bukan objek eksploitasi. Sementara itu, ajaran Islam menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ciptaan. Dua tradisi ini bertemu pada satu titik etis: alam harus dirawat, bukan dihabiskan.

Implementasi di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat 

Momentum Ramadan dan masa Prapaskah yang bersamaan dalam Februari ini memberi peluang untuk menerjemahkan nilai-nilai ini ke dalam tindakan konkret. Di sekolah, misalnya, puasa dapat menjadi pintu masuk pendidikan karakter lintas iman: diskusi tentang makna pengendalian diri, proyek pengurangan sampah makanan di kantin, atau gerakan hemat air selama masa puasa. Sekolah tidak perlu mencampuradukkan ajaran agama, cukup membuka ruang refleksi bersama tentang nilai kemanusiaan dan kepedulian lingkungan.

Dalam keluarga, masa ini dapat menjadi laboratorium etika paling efektif. Orang tua dapat memberi teladan dengan memasak secukupnya saat berbuka, menghindari pemborosan, dan mengajak anak berbagi dengan yang kekurangan. Anak-anak belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan membentuk sikap hormat terhadap sesama dan alam. Dalam keluarga lintas iman atau lingkungan heterogen, penghormatan terhadap praktik ibadah tetangga menjadi pelajaran toleransi yang hidup.

Sementara itu, di tingkat masyarakat, pertemuan Ramadan dan Prapaskah dapat mendorong transformasi dari toleransi pasif menuju solidaritas aktif. Kerja bakti lingkungan, penanaman pohon, pengelolaan sampah bersama, atau dapur umum bagi kelompok rentan dapat diberi makna rohani lintas agama. Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa iman, ketika diwujudkan dalam tindakan, mampu menjawab persoalan bersama.

Perlu dicatat dan ditekankan, upaya ini bukanlah sinkretisme agama. Setiap tradisi tetap berdiri dengan identitas dan ajarannya masing-masing, tanpa bercampur aduk. Yang dibangun adalah ruang etis bersama, tempat nilai-nilai universal kesederhanaan, keadilan, kepedulian dihidupi secara konkret. Justru dengan saling menghormati perbedaan itulah kerukunan menemukan bentuknya yang paling dewasa.

Indonesia, dengan keberagamannya, membutuhkan lebih banyak momen seperti ini: momen ketika iman tidak dipakai sebagai penanda “kami” dan “mereka”, melainkan sebagai sumber energi moral untuk merawat kehidupan bersama. Ramadan dan Prapaskah yang berjalan beriringan adalah pengingat bahwa di balik perbedaan ritus dan doktrin, terdapat panggilan yang sama: menjadi manusia yang lebih bijak, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab terhadap sesama dan bumi.

Akhirnya, pertemuan dua masa puasa ini mengajukan pertanyaan reflektif bagi kita semua: setelah menahan lapar dan membatasi diri, apakah kita juga bersedia mengubah cara hidup dan menjadikannya sebagai karakter diri? Jika jawabannya ya, maka Ramadan dan Prapaskah tidak berhenti sebagai peristiwa kalender, melainkan menjadi titik balik etis. Bagi sekolah, keluarga, dan masyarakat Indonesia, menuju kerukunan yang lebih dalam dan masa depan ekologis yang lebih lestari. ***