KABARDARING.ID - Iran kembali meningkatkan tensi diplomatik dengan Uni Eropa setelah secara resmi menetapkan angkatan bersenjata negara-negara Uni Eropa sebagai kelompok teroris. Keputusan tersebut diumumkan pada Minggu (1/2/2026) dan dinilai sebagai langkah balasan atas kebijakan UE yang sebelumnya memasukkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa keputusan tersebut memiliki dasar hukum yang jelas dalam peraturan nasional Iran. Penetapan itu, kata dia, merupakan bentuk respons terhadap apa yang dianggap Teheran sebagai tindakan bermusuhan dari pihak Eropa.
“Iran akan mengambil langkah setimpal terhadap setiap upaya yang menargetkan institusi pertahanan negara,” ujar Ghalibaf dalam sidang parlemen, sebagaimana dikutip kantor berita AFP.
Sidang parlemen yang mengesahkan keputusan tersebut berlangsung dalam suasana penuh simbol politik. Sejumlah legislator terlihat mengenakan seragam IRGC sebagai bentuk dukungan terbuka terhadap lembaga militer tersebut.
Tayangan televisi pemerintah Iran juga menampilkan suasana sidang yang diwarnai seruan anti-Amerika Serikat, Israel, dan Uni Eropa. Sidang ini sekaligus bertepatan dengan peringatan kembalinya Ruhollah Khomeini ke Iran, yang menandai awal berdirinya Republik Islam Iran hampir lima dekade lalu.
IRGC merupakan kekuatan militer elite Iran yang memiliki peran penting dalam keamanan nasional dan kebijakan regional negara tersebut. Namun, lembaga ini kerap menjadi sorotan negara-negara Barat yang menudingnya terlibat dalam berbagai konflik dan penindakan domestik.
Uni Eropa sebelumnya memutuskan memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris, mengikuti langkah yang lebih dahulu diambil oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Dampak Regional dan Sikap Iran
Langkah saling balas ini menambah daftar panjang ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, terutama di tengah isu keamanan kawasan Timur Tengah dan potensi eskalasi konflik.
Meski situasi memanas, Iran menegaskan masih membuka ruang dialog. Pemerintah Iran menyatakan bahwa konflik terbuka tidak akan memberikan keuntungan strategis bagi pihak mana pun dan justru berpotensi memperburuk stabilitas regional. ***
