×

Pencarian

21 Tahun Lalu Diguncang Gempa 9,1 Skala Richter, Aceh Luluh Lantak

KABAR DARING - Masih teringat betul dua puluh satu tahun lalu, tepatnya Jum'at (26/12/2004) langit Aceh tak hanya tumpah oleh air mata, tetapi juga menyapu daratan hingga membuat Aceh luluh lantak.

Mengutip United States Geological Survey, gempa bumi dahsyat berpusat di wilayah Samudra Hindia di pantai barat Sumatra, Indonesia, tiba-tiba mengguncang Aceh dan terasa hingga Medan.

Bangunan bergoyang hebat. Warga berhamburan mencari perlindungan. Dalam hitungan detik, rumah ambruk, jalanan terbelah, pohon dan tiang listrik roboh bersamaan.

Beberapa menit kemudian, guncangan mereda. Warga mengira bencana telah usai dan mulai bernapas lega. Kenyataannya, itu baru awal dari petaka yang jauh lebih besar.

Tak lama berselang, air laut di pesisir Aceh surut drastis. Warga yang belum memiliki pengetahuan kebencanaan tak memahami tanda tersebut. Saat itu, belum ada sistem peringatan dini tsunami, dan mitigasi bencana nyaris tak dikenal.

Banyak yang menganggap surutnya air laut sebagai peristiwa biasa. Padahal, bahaya besar tengah mengintai.

Benar saja, tak lama kemudian gelombang laut raksasa muncul dari kejauhan. Tingginya menjulang, setara bahkan melampaui pohon kelapa. Tak ada waktu untuk menyelamatkan diri.

Benar saja, tak lama kemudian gelombang laut raksasa muncul dari kejauhan. Tingginya menjulang, setara bahkan melampaui pohon kelapa. Tak ada waktu untuk menyelamatkan diri.

Gelombang tsunami menyapu daratan, menenggelamkan warga dan meratakan apa pun yang dilaluinya-rumah, bangunan, kendaraan, hingga kehidupan yang dibangun selama bertahun-tahun. Dalam sekejap, kawasan pesisir berubah menjadi puing-puing.

Setelah gelombang pertama menelan begitu banyak nyawa, dunia terperangah melihat kedahsyatan bencana pagi itu. Aceh luluh lantak. Warga yang selamat kebingungan, tak tahu harus berbuat apa di tengah kehancuran total.

Sehari kemudian, terungkap bahwa pusat gempa bukan berada di Aceh, melainkan di Samudera Hindia. Kekuatan gempa mencapai 9,1 Skala Richter, menjadikannya salah satu gempa terbesar yang pernah tercatat dan bencana paling dahsyat di abad ke-21.

Beberapa bulan kemudian, skala tragedi itu baru benar-benar terpetakan. Sekitar 280 ribu orang di berbagai negara tewas akibat gempa dan tsunami Samudera Hindia. Menurut data BPBD, khusus di Aceh, korban jiwa mencapai 130 ribu orang, sementara sekitar 500 ribu penduduk kehilangan tempat tinggal. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai Rp41,4 triliun.

Pemulihan pasca-tsunami Aceh bukanlah perjalanan singkat. Infrastruktur harus dibangun kembali dari nol. Rumah-rumah yang rata dengan tanah diganti, kehidupan sosial dan ekonomi perlahan ditata ulang. Proses ini memakan waktu bertahun-tahun.

Namun, dari tragedi tersebut lahir kesadaran baru. Tsunami Aceh menjadi titik balik pemahaman kebencanaan di Indonesia. Pemerintah dan masyarakat mulai menyadari bahwa Indonesia berada di wilayah rawan bencana dan tak bisa mengabaikan mitigasi.

Pada 2005, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Penanggulangan Bencana dan membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah ini menjadi fondasi penting dalam upaya menghadapi risiko bencana di masa depan.

Pada akhirnya, tragedi Aceh mengajarkan satu pelajaran mahal. Hidup di negeri cincin api berarti belajar berdamai dengan alam.