Update Perang Iran–AS Hari ke-7: 1.230 Tewas, Trump Tolak Mojtaba Khamenei Jadi Penerus
KABARDARING.ID – Konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus memanas memasuki hari ketujuh. Serangan yang berlangsung sejak akhir pekan itu dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.230 orang.
Laporan terbaru dari Al Jazeera, Jumat (6/3/2026) dini hari WIB, menyebutkan situasi di kawasan Timur Tengah semakin tegang. Militer Israel bahkan mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi warga di wilayah selatan Beirut, Lebanon, yang dikenal sebagai kawasan padat penduduk.
Di sisi lain, dinamika politik juga mengemuka terkait masa depan kepemimpinan Iran.
Mengutip laporan The New York Times, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran yang dilaporkan terbunuh, tidak dapat diterima sebagai penerus kepemimpinan negara tersebut.
Trump juga menegaskan bahwa Washington memiliki kepentingan dalam menentukan arah kepemimpinan baru di Iran, sebuah pernyataan yang memicu reaksi keras dari berbagai pihak di kawasan.
Sementara itu, Kantor Berita Iran IRNA melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan adanya potensi meningkatnya ketegangan di wilayah perbatasan Iran–Irak.
Menurut Araghchi, terdapat indikasi upaya Amerika Serikat menjalin komunikasi dengan kelompok Kurdi di kawasan tersebut yang diduga bertujuan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Iran di Teheran.
Pemerintah Iran juga menyatakan kesiapannya menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar.
Pejabat senior Iran Ali Larijani menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi kemungkinan invasi darat dari Amerika Serikat, jika situasi terus memburuk.
Selain korban jiwa yang terus bertambah, konflik ini juga mulai berdampak pada stabilitas energi global. Pasalnya, Selat Hormuz dilaporkan ditutup oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), jalur penting yang selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Penutupan jalur strategis tersebut memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan potensi lonjakan harga minyak di pasar internasional.
Hingga kini, situasi di kawasan Timur Tengah masih terus berkembang dan dikhawatirkan dapat memicu konflik yang lebih luas. ***