Kemenag Tegas: Tadarus Gunakan Speaker Dalam, Aturan Sudah Jelas Sejak 2022

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar/Kemenag RI
Penulis: Redaksi
Senin, 23 Februari 2026 | 01:36:35 WIB

KABARDARING.ID – Kementerian Agama akhirnya buka suara terkait insiden protes warga negara asing terhadap kegiatan tadarus pada malam pertama Ramadan di Dusun Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Video keberatan terhadap penggunaan pengeras suara itu viral dan memicu perdebatan publik.

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa penggunaan pengeras suara di masjid dan musala bukan tanpa aturan. Pemerintah telah menerbitkan pedoman resmi yang berlaku nasional.

“Penggunaan pengeras suara sudah ada pedomannya dalam Surat Edaran Menteri Agama untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama. Untuk tadarus sebaiknya menggunakan speaker dalam sesuai ketentuan tersebut,” tegas Thobib, Minggu (22/2/2026) dalam siaran persnya.

Aturan Sudah Berlaku Sejak 2022

Pedoman tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE.05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala yang diterbitkan pada 18 Februari 2022.

Dalam aturan itu ditegaskan bahwa pengeras suara dibagi menjadi dua:

Pengeras suara dalam: untuk kebutuhan di dalam ruangan masjid/musala.

Pengeras suara luar: diarahkan ke luar ruangan.

Volume suara juga diatur, dengan batas maksimal 100 desibel.

Batasan Penggunaan Speaker

Beberapa poin penting dalam surat edaran tersebut:

Sebelum azan Subuh: pembacaan Al-Qur’an/selawat/tarhim boleh menggunakan speaker luar maksimal 10 menit.

Sebelum Zuhur, Asar, Magrib, Isya: maksimal 5 menit menggunakan speaker luar.

Setelah azan: rangkaian salat, zikir, doa, dan kajian wajib menggunakan speaker dalam.

Salat Jumat: sebelum azan maksimal 10 menit speaker luar, khutbah dan salat menggunakan speaker dalam.

Ramadan (Tarawih, ceramah, tadarus): menggunakan speaker dalam.

Takbir Idul Fitri/Adha: speaker luar sampai pukul 22.00 waktu setempat, setelah itu speaker dalam.

Kemenag menekankan bahwa aturan ini bukan untuk membatasi syiar, melainkan menjaga keseimbangan antara pelaksanaan ibadah dan ketenteraman masyarakat.

Negara Lain Juga Mengatur

Pengaturan serupa juga diterapkan di berbagai negara:

Malaysia (Selangor): azan dan bacaan Al-Qur’an boleh menggunakan speaker luar, ceramah dibatasi di lingkungan masjid.

Arab Saudi: volume azan dan iqamah dibatasi maksimal sepertiga dari kapasitas pengeras suara.

Mesir: sejak 2018 mengatur pengeras suara karena dinilai terlalu keras.

Bahrain: speaker luar khusus azan, ibadah lain menggunakan speaker dalam.

Uni Emirat Arab: volume azan dibatasi maksimal 85 desibel.

Turki dan Suriah: speaker luar untuk azan, khutbah dan pengajian menggunakan speaker dalam.

Kementerian Agama mengimbau seluruh pengurus masjid dan musala mematuhi aturan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

“Syiar tetap berjalan, ketertiban tetap terjaga,” tegasnya. ***

Reporter: Redaksi