Pemkot Bengkulu Sukses Relokasi 297 PKL, Jalan Lega, Pedagang Masuk Pasar

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Bengkulu Alex Periansyah/Kabardaring
Penulis: Redaksi
Kamis, 05 Februari 2026 | 09:21:43 WIB

KABARDARING.ID — Komitmen Pemerintah Kota Bengkulu dalam menata kawasan perkotaan mulai menunjukkan hasil nyata. Melalui pendekatan persuasif dan humanis, 297 Pedagang Kaki Lima (PKL) yang selama belasan tahun berjualan di bahu jalan kini resmi direlokasi ke dalam pasar dan berstatus sebagai pedagang legal.

Keberhasilan relokasi ini menjadi penanda perubahan pola penataan kota. Tanpa kekerasan dan tanpa konflik, ratusan PKL bertransformasi dari pedagang jalanan menjadi pedagang pasar yang lebih tertib, aman, dan terlindungi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Bengkulu Alex Periansyah menegaskan, relokasi dilakukan bukan sekadar penertiban, melainkan solusi ekonomi jangka panjang bagi para pedagang.

“Kami mengedepankan komunikasi dari hati ke hati. Tujuannya agar para pedagang memahami bahwa berjualan di tempat yang legal dan aman justru lebih menguntungkan dalam jangka panjang,” ujar Alex, Rabu (4/2/2026).

Hingga awal Februari 2026, sebanyak 297 PKL telah ditempatkan di empat titik pasar utama yang dikelola secara profesional oleh Pemkot Bengkulu.

Di Pasar Panorama, sebanyak 148 pedagang direlokasi. Kawasan ini menjadi fokus utama penataan karena selama bertahun-tahun menjadi titik kemacetan akibat alih fungsi bahu jalan.

Selanjutnya, 88 pedagang di kawasan Jalan KZ Abidin I yang dikenal sebagai pusat aktivitas kota, secara sukarela pindah ke dalam gedung Pasar Tradisional Modern (PTM) setelah hampir dua dekade berjualan di atas trotoar.

Penataan juga dilakukan di Pasar Jangkar, dengan 41 pedagang direlokasi untuk mendukung keindahan kawasan pesisir dan wisata sejarah di sekitar Kampung Bahari dan Pelabuhan.

Sementara itu, 20 pedagang kuliner ditempatkan di Pasar Barukoto, yang diarahkan menjadi pusat kuliner penunjang destinasi wisata Benteng Marlborough.

Salah satu kunci keberhasilan relokasi tanpa gesekan adalah kebijakan insentif dari Wali Kota Bengkulu. Pemkot memberikan pembebasan biaya sewa lapak dan retribusi selama tiga bulan pertama sebagai dukungan ekonomi pada masa transisi.

“Ini bukti pemerintah hadir. Kami tidak hanya meminta pedagang pindah, tetapi juga membantu proses pemindahan barang dan memberikan keringanan biaya agar modal usaha mereka tidak terganggu,” jelas Alex.

Dampak penataan mulai dirasakan masyarakat. Di kawasan KZ Abidin I dan Panorama, badan jalan kini lebih lapang, trotoar kembali berfungsi untuk pejalan kaki, dan arus lalu lintas menjadi lebih lancar.

Pemkot Bengkulu memastikan akan terus melakukan pemantauan dan pendampingan agar para pedagang dapat bertahan di lokasi baru serta tidak kembali berjualan di bahu jalan. ***

Reporter: Redaksi