KABARDARING.ID – Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bengkulu, Tejo Suroso, dikabarkan telah dipanggil oleh jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu menyusul berbagai sorotan yang belakangan mencuat. Namun hingga kini, belum ada keputusan apakah pejabat eselon II tersebut akan dievaluasi atau tetap dipertahankan.
Kepala Kesbangpol Provinsi Bengkulu, Mif Tarul Ilmi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti berbagai aspirasi masyarakat dan memanggil Tejo Suroso untuk dimintai keterangan. Hasil pemanggilan tersebut telah dituangkan dalam nota dinas dan kini tinggal menunggu arahan pimpinan daerah.
"Kami memanggil Pak Tejo dan hasilnya sudah kami tuangkan ke dalam nota dinas. Sekarang kami menunggu petunjuk pimpinan," ujar Mif saat menemui massa aksi yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Anti-Korupsi (KOMUNIKASI).
Pernyataan itu memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat. Pasalnya, Tejo Suroso selama beberapa tahun terakhir kerap menjadi sorotan publik karena sejumlah kontroversi yang mengiringi perjalanan kariernya.
Mulai dari sorotan terkait OTT KPK, penemuan 609 butir peluru aktif di rumah dinas, lambannya penanganan jalan rusak di Kabupaten Lebong, demonstrasi emak-emak terkait dugaan skandal asmara, hingga sorotan terhadap anggaran jumbo Rp600 miliar di Dinas PUPR dan laporan harta kekayaan yang mencapai miliaran rupiah.
Di sisi lain, isu dugaan perselingkuhan yang sempat memicu aksi demonstrasi besar-besaran di depan Kantor Gubernur Bengkulu juga belum mendapatkan klarifikasi langsung dari Tejo Suroso. Kondisi ini membuat polemik yang berkembang di ruang publik terus menjadi perhatian.
Sementara itu, Ketua Garbeta Kabupaten Lebong, Edwar Mulfen, menegaskan pihaknya akan terus mengawal dan memantau tindak lanjut tuntutan masyarakat terkait polemik yang menyeret nama Tejo Suroso.
"Pejabat publik harus menjaga moral dan etika. Jika benar dugaan tersebut terjadi, maka sudah sepatutnya gubernur mengambil langkah tegas," ujar Edwar Mulfen yang akrab disapa Lucen.
Menurut Lucen, tuntutan yang disampaikan pihaknya bukan tanpa alasan. Ia menyebut informasi mengenai dugaan hubungan terlarang Tejo Suroso dengan seorang perempuan berinisial MS alias TB telah beredar sejak beberapa tahun terakhir.
"Informasi yang kami terima, hubungan itu sudah berlangsung sejak 2022. Bahkan pada tahun 2025 lalu disebut-sebut sempat digrebek warga. Sampai sejauh ini belum ada klarifikasi langsung dari beliau. Jika memang Bengkulu ingin menjadi daerah yang religius, maka persoalan seperti ini sebaiknya ditindaklanjuti secara serius," tegasnya.
Kini, bola panas berada di tangan gubernur. Apakah berbagai kontroversi yang membayangi Tejo Suroso akan berujung pada evaluasi jabatan, atau justru ia tetap bertahan di kursi strategisnya?
Publik Bengkulu masih menunggu jawabannya. ***
