×

Pencarian

Iran Keluarkan Ancaman Terbuka: Kapal Induk AS Jadi Target, Kawasan Timur Tengah di Ujung Krisis

KABARDARING.ID – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki fase paling berbahaya. Teheran secara terbuka memperingatkan siap menyerang pangkalan militer dan kapal induk Amerika Serikat jika Washington melancarkan aksi militer apa pun terhadap Iran.

Ancaman keras ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan “waktu hampir habis” bagi Iran, sementara Uni Eropa resmi memasukkan Garda Revolusi Iran (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris.

Situasi yang memanas ini mendorong Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turun tangan, menyerukan dimulainya kembali perundingan nuklir guna menghindari krisis besar dengan dampak menghancurkan bagi kawasan Timur Tengah.

Tidak Akan Seperti Juni Lalu

Juru bicara militer Iran memperingatkan bahwa respons Teheran kali ini tidak akan terbatas, berbeda dengan konflik singkat pada Juni tahun lalu saat pesawat dan rudal AS sempat terlibat dalam perang udara Israel–Iran.

Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menegaskan, setiap serangan AS akan dibalas secara instan dan tegas.

"Kapal induk Amerika memiliki kerentanan serius. Banyak pangkalan AS di Teluk berada dalam jangkauan rudal jarak menengah kami,” kata Akraminia kepada televisi pemerintah Iran, dikutip AFP, Jumat (30/1/2026).

Ia juga menyindir gaya kepemimpinan Trump.

"Ini tidak akan seperti yang dibayangkan Trump—melakukan operasi singkat lalu dua jam kemudian menulis cuitan bahwa semuanya telah selesai,” ujarnya.

Negara Teluk Cemas, Minyak Terancam Melonjak

Seorang pejabat negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS mengakui kekhawatiran yang meningkat tajam.

“Serangan terhadap Iran akan membawa kekacauan regional. Dampaknya bukan hanya di Timur Tengah, tapi juga Amerika Serikat, terutama lonjakan harga minyak dan gas,” ujarnya kepada AFP.

Kekhawatiran itu diperkuat dengan upaya diplomatik regional. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dilaporkan melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk membahas langkah-langkah meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas kawasan.

Uni Eropa Tetapkan IRGC sebagai Organisasi Teroris

Di saat bersamaan, Uni Eropa meningkatkan tekanan politik dengan menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris, menyusul penindakan brutal terhadap gelombang protes di Iran.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut keputusan itu sebagai langkah yang “sudah lama ditunggu”.

"Istilah teroris memang pantas bagi rezim yang menumpahkan darah rakyatnya sendiri,” ujarnya.

Teheran bereaksi keras. Militer Iran mengecam keputusan Uni Eropa sebagai tidak logis, tidak bertanggung jawab, dan penuh dendam, menuding Brussel bertindak atas tekanan Amerika Serikat dan Israel.

Ribuan Tewas, Warga Iran Diliputi Ketakutan

Kelompok hak asasi manusia menyebut ribuan orang tewas dalam protes anti-pemerintah, termasuk akibat tindakan pasukan keamanan dan IRGC.

Kantor Berita Aktivis HAM (HRANA) mencatat 6.373 korban jiwa, meski mengakui angka tersebut masih sulit diverifikasi akibat pembatasan internet. Otoritas Iran sendiri mengakui lebih dari 3.000 kematian, namun menyebut sebagian besar korban berasal dari aparat keamanan.

Di Teheran, suasana warga diliputi kepasrahan.

“Saya rasa perang tak terhindarkan. Bisa jadi lebih buruk atau lebih baik, saya tidak tahu,” ujar seorang pelayan berusia 29 tahun yang enggan disebutkan namanya.

Warga lain menyebut kondisi ekonomi sebagai titik terendah dalam hidup mereka.

Armada AS Siaga Penuh

Trump sebelumnya mengancam aksi militer jika demonstran terus dibunuh. Namun kini fokusnya beralih ke program nuklir Iran, yang diyakini Barat bertujuan mengembangkan senjata atom.

Pada Rabu lalu, Trump menyatakan kelompok penyerang angkatan laut AS yang tiba di Timur Tengah “siap, bersedia, dan mampu” untuk menyerang Iran.

Sementara itu, papan reklame raksasa di Teheran menampilkan gambar simbolis kapal induk AS yang hancur, mempertegas pesan bahwa Iran siap menghadapi skenario terburuk. ***