KABAR DARING — Mata dunia tertuju pada Greendland usai Presiden AS, Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa AS seharusnya mengambil alih pulau terbesar di dunia ini. Namun, ucapan itu telah ditolak oleh para pemimpin pulau tersebut dan oleh Denmark.
Selama ribuan tahun, Greenland telah menjadi magnet bagi para petualang, mulai dari Erik the Red yang membangun pemukiman Eropa pertama seribu tahun silam, hingga pasukan Sekutu yang menjaga pesisir terpencilnya saat Perang Dunia Kedua berkecamuk.
Namun, di balik keheningan esnya, pulau terbesar di dunia ini menyimpan rahasia geologis yang kini memicu ketegangan diplomatik tingkat tinggi.
Ketertarikan Donald Trump untuk menganeksasi wilayah semi-otonom milik Denmark ini sempat mengguncang aliansi NATO, bahkan memicu peringatan keras dari Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, bahwa langkah tersebut bisa mengakhiri kemitraan mereka.
Gejolak politik ini bukan tanpa alasan; Greenland bukan lagi sekadar bongkahan es, melainkan gudang harta karun yang diincar banyak negara.
Lantas, apa sebenarnya yang tersembunyi di bawah lapisan es setebal ribuan meter itu?
Mengapa wilayah seluas 2 juta kilometer persegi—yang secara ukuran sebenarnya setara dengan Republik Demokratik Kongo meski terlihat raksasa karena distorsi peta Mercator kini menjadi pusat perebutan pengaruh global?
Jejak Purba dan Mineral di Balik "Telur Cokelat" Arktik
Secara geologis, Greenland adalah buku sejarah bumi yang terbuka. Dilansir BBC, Kathryn Goodenough dari British Geological Survey menyebutkan bahwa sejarah batuan di sana "setua sejarah apa pun di dunia."
Dahulu, sekitar 500 juta tahun lalu, Greenland terjepit dalam superkontinen di antara Amerika Utara dan Eropa Utara. Barulah sekitar 60 hingga 65 juta tahun silam, daratan ini pecah dan membentuk celah yang kita kenal sebagai Samudra Atlantik Utara.
Dalam perjalanannya menjauh dari Eropa, Greenland melewati titik panas yang memicu semburan lava pembentuk Islandia, meninggalkan jejak mineral dari era Precambrian hingga sedimen modern yang sangat berharga.
Struktur pulau ini unik, mirip dengan camilan cokelat Cadbury Creme Egg; bagian luarnya keras namun interiornya lunak dan terus mengalir perlahan melalui gletser menuju laut.
Hanya 20% wilayahnya yang bebas es, namun di sanalah sejarah pertambangan dimulai.
Pada tahun 1850, ditemukan cryolite di Ivittuut—mineral langka yang dijuluki "es yang tak pernah meleleh"—yang kemudian menjadi bahan krusial bagi Sekutu untuk memproduksi aluminium pesawat tempur.
Thomas Find Kokfelt dari GEUS mengenang betapa masifnya tantangan pemetaan di sana. "Luas area bebas es saja bisa mencapai 200 lembar peta skala satu banding 100.000," ujarnya.
Jika menggunakan metode lama, pemetaan itu baru akan selesai dalam 200 tahun, meski akhirnya peta geologi awal berhasil dirampungkan pada awal 2000-an.
Ambisi Energi Hijau dan Risiko yang Menghantui
Kini, fokus dunia beralih pada mineral kritis dan elemen tanah jarang yang permintaannya diprediksi melonjak empat kali lipat pada 2040 demi transisi energi bersih.
Greenland diperkirakan menyimpan cadangan besar untuk bahan baku baterai kendaraan listrik dan turbin angin.
Selain itu, sejak era 1970-an, perusahaan energi telah mengendus potensi minyak dan gas bumi di landas kontinennya yang mirip dengan situs Arktik lainnya.
Namun, Simon Jowitt dari University of Nevada mengingatkan bahwa ini adalah bisnis berisiko tinggi. "Dari 100 proyek eksplorasi, mungkin hanya satu yang benar-benar bisa menjadi tambang," jelasnya, sembari menekankan butuh waktu sedikitnya 10 tahun dari penemuan hingga produksi.
Hambatan logistik pun tidak main-main karena ketiadaan jalan raya memaksa semua transportasi dilakukan lewat laut atau udara.
Belum lagi masalah lingkungan; pada tahun 2021, Greenland terpaksa menetapkan undang-undang pembatasan kadar uranium untuk mencegah polusi radioaktif, yang seketika membekukan proyek tambang di wilayah selatan.
Luka lama dari tiga tambang terdahulu masih berbekas, di mana logam berat ditemukan pada organisme lokal seperti laba-laba dan ikan.
Di tengah mencairnya es sebanyak 30 juta ton setiap jam akibat perubahan iklim, penduduk lokal menghadapi dilema antara peluang ekonomi dan pelestarian budaya kepemilikan lahan bersama.
Meski perhatian internasional terus menguat, masa depan Greenland tetap berada di tangan rakyatnya sendiri, bukan pada ambisi negara besar. ***
