Negosiasi Buntu! AS vs Iran Gagal Sepakat, Ini 5 Ganjalan Besar yang Jadi Biang Keroknya
KABARDARING.ID – Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Wakil Presiden AS JD Vance mengakui belum ada kesepakatan yang tercapai, meski pembicaraan berlangsung intens selama berjam-jam.
Menurut Vance, perbedaan mendasar membuat kedua negara gagal mencapai titik temu, bahkan disebut lebih merugikan Iran dibanding AS.
Lalu, apa saja yang jadi penghambat utama? Berikut 5 ganjalan besar dalam negosiasi panas ini.
1. Konflik Regional & Peran Israel
Ketegangan meningkat akibat serangan Israel terhadap kelompok sekutu Iran seperti Hizbullah di Lebanon.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menegaskan bahwa aksi tersebut bisa membuat negosiasi “tak bermakna”. Di sisi lain, PM Israel Benjamin Netanyahu menolak gencatan senjata penuh.
2. Sengketa Selat Hormuz
Selat Hormuz jadi titik panas. Iran mengklaim wilayah itu sebagai kedaulatannya dan bahkan membatasi lalu lintas kapal.
Presiden AS Donald Trump menuding Iran menghambat pelayaran dan memperingatkan agar tidak memungut biaya dari kapal tanker.
3. Program Nuklir Iran
Isu klasik yang belum selesai: nuklir.
AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya. Sebaliknya, Iran bersikeras itu hak mereka untuk tujuan damai sesuai perjanjian internasional.
Perdebatan ini sudah berlangsung sejak kesepakatan JCPOA 2015, dan hingga kini belum menemukan solusi permanen.
Jaringan Sekutu Iran di Timur Tengah
Iran punya pengaruh besar lewat jaringan sekutu seperti Hamas dan Houthi.
AS dan sekutunya melihat ini sebagai ancaman, sementara Iran menganggapnya sebagai strategi “pertahanan ke depan”. Masalahnya, Iran belum menunjukkan tanda akan melepas jaringan ini.
Sanksi & Aset Beku
Iran menuntut pencabutan sanksi dan pencairan aset hingga US$120 miliar sebelum kesepakatan.
Tokoh seperti Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan ini syarat penting. Namun, belum jelas apakah AS siap memberikan konsesi sebesar itu.
Meski disebut “intens”, negosiasi masih jauh dari kata selesai. Kedua pihak sama-sama mengklaim membawa “itikad baik”, tapi jurang perbedaan masih terlalu lebar. Pertanyaannya, siapa yang akan mengalah lebih dulu.