Update Korban Perang Iran vs AS–Israel: 787 Tewas, 13 Negara Terseret Konflik

Citra satelit mengkonfirmasi Iran telah menargetkan dan menghancurkan berbagai aset canggih AS/Istimewa
Penulis: Redaksi
Rabu, 04 Maret 2026 | 17:12:25 WIB

KABARDARING.ID – Eskalasi militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin mengkhawatirkan. Hingga Rabu (4/3/2026) WIB, konflik bersenjata ini dilaporkan telah menyeret sedikitnya 13 negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, dengan total korban tewas mencapai ratusan orang serta ribuan lainnya luka-luka.

Serangan udara dan balasan militer yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memperluas dampak pertempuran lintas batas. Sejumlah fasilitas strategis dilaporkan menjadi sasaran, memicu kepulan asap dan kepanikan warga di berbagai kota.

Iran Paling Terdampak

Data sementara menunjukkan Iran menjadi wilayah dengan tingkat fatalitas tertinggi. Korban tewas dilaporkan mencapai 787 orang, dengan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan di sejumlah titik strategis.

Rincian Korban di Berbagai Negara

Konflik ini tak lagi terbatas pada satu zona perang. Berikut perincian korban yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber:

Iran: 787 tewas, ratusan luka

Lebanon: 40 tewas, 246 luka

Israel: 11 tewas, ratusan luka

Amerika Serikat: 6 tewas, 18 luka

Kuwait: 3 tewas, 35 luka

Uni Emirat Arab: 3 tewas, 68 luka

Irak: 2 tewas, 5 luka

Bahrain: 1 tewas, 4 luka

Oman: 1 tewas, 5 luka

Yordania: 5 luka


Negara lain seperti Siprus dan Arab Saudi juga dilaporkan mulai merasakan dampak langsung maupun tidak langsung, baik dari sisi keamanan wilayah udara, gelombang pengungsi, hingga gangguan stabilitas energi regional.

Ancaman Meluas

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran global akan potensi perang terbuka berskala lebih luas. Jalur penerbangan di sejumlah negara ditutup, aktivitas ekonomi terganggu, dan pasar energi dunia mulai bergejolak.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi yang signifikan. Dunia internasional pun mendesak penghentian serangan dan pembukaan jalur diplomasi guna mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil.

Perkembangan konflik masih terus dipantau.***

Reporter: Redaksi