Arafi, Ulama Modern dari Qom yang Kini Pimpin Iran Sementara

Ayatollah Alireza Arafi/KabarDaring.ID
Penulis: Redaksi
Senin, 02 Maret 2026 | 01:37:17 WIB

KABARDARING.ID - Dewan Kepemimpinan Sementara Iran resmi dibentuk sebagai mekanisme transisi kekuasaan negara, menyusul aktivasi Pasal 111 Konstitusi Republik Islam Iran yang mengatur pemerintahan darurat saat terjadi kekosongan jabatan Pemimpin Tertinggi.

Dalam struktur tersebut, Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk mengisi posisi strategis dan akan bekerja bersama Presiden Masoud Pezeshkian serta Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei. Format kepemimpinan kolektif ini dirancang untuk menjaga stabilitas pemerintahan hingga pemimpin tetap ditetapkan.

Pembentukan dewan dilakukan setelah muncul konfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang memicu pemberlakuan protokol darurat konstitusi. Sesuai ketentuan hukum, dewan tiga orang atau triumvirat segera mengambil alih otoritas negara sampai suksesor permanen terpilih melalui mekanisme yang berlaku.

Dalam komposisi ini, Arafi berperan sebagai perwakilan ahli hukum agama yang dipilih dari Dewan Garda. Ia berbagi mandat kekuasaan dengan Presiden Pezeshkian yang memimpin cabang eksekutif serta Mohseni Ejei yang mengendalikan sektor hukum dan keamanan.

Ketiganya kini memegang kendali kebijakan strategis negara, termasuk arah politik luar negeri dan militer di tengah dinamika geopolitik kawasan yang memanas.

Tokoh Intelektual Berpengaruh

Alireza Arafi dikenal sebagai tokoh intelektual berpengaruh di kalangan elite agama Kota Qom. Ulama kelahiran 1959 itu tercatat menduduki sejumlah jabatan penting, antara lain Direktur sistem Seminari Islam nasional, anggota Dewan Garda, serta anggota Majelis Ahli.

Rekam jejaknya dalam birokrasi keagamaan membuatnya dinilai sebagai figur rasional untuk mengisi posisi penting pada masa krisis kepemimpinan. Meski berasal dari lingkungan tradisional, Arafi disebut memiliki pendekatan modern terhadap perkembangan teknologi.

Ia menguasai bahasa Arab dan Inggris, serta kerap menekankan pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam penyebaran ideologi negara secara global. Karakter tersebut membuatnya dipandang mampu menjembatani nilai revolusi lama dengan tuntutan era digital.

Penunjukan mantan Kepala Universitas Internasional Al-Mustafa ini juga dinilai menjadi sinyal kesinambungan ideologi negara, termasuk bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sebagai figur yang dikenal loyal, Arafi diharapkan memastikan transisi kekuasaan berjalan stabil tanpa perubahan arah politik yang drastis.

Peran Dewan Kepemimpinan Sementara Iran memang bersifat sementara, namun sangat menentukan arah masa depan negara. Selain menjalankan roda pemerintahan harian, Arafi bersama 88 anggota Majelis Ahli juga menjalankan proses seleksi tertutup untuk menentukan Pemimpin Tertinggi yang baru.

Dengan demikian, posisi dewan sementara tetap menjadi kunci dalam fase transisi politik Iran hingga keputusan final ditetapkan oleh para ulama senior. **

Reporter: Redaksi