Camat “Booking” Lewat Aplikasi, Razia Kos Prostitusi Berujung Tes HIV

Pemerintah Kota bersama Dinas Kesehatan dan Satpol PP menggelar skrining HIV di sejumlah rumah kos yang diduga menjadi lokasi praktik prostitusi daring, Minggu (15/2/2026)/Kabardaring
Penulis: Redaksi
Minggu, 15 Februari 2026 | 21:32:24 WIB

KABARDARING.ID – Upaya penanganan lonjakan kasus HIV di Kota Bengkulu memasuki babak baru. Pemerintah Kota bersama Dinas Kesehatan dan Satpol PP menggelar skrining HIV di sejumlah rumah kos yang diduga menjadi lokasi praktik prostitusi daring, Minggu (15/2/2026).

Operasi yang menyasar kawasan Kelurahan Kebun Beler ini diawali langkah tak biasa. Camat Ratu Agung, Subhan Gusti Hendri, terlebih dahulu memesan perempuan melalui aplikasi kencan yang kerap disebut “aplikasi hijau”. Dari komunikasi tersebut, diketahui lokasi transaksi berada di salah satu kos di wilayahnya.

Setelah memastikan titik lokasi, camat masuk lebih dulu ke kamar kos yang dimaksud. Tak lama berselang, tim gabungan yang dipimpin Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Nelli Hartati dan Kasat Pol PP Sahat Marulitua Situmorang menyusul untuk melakukan pemeriksaan serta tes HIV terhadap para penghuni yang terindikasi terlibat praktik prostitusi online.

Di lokasi, petugas menemukan lima perempuan di kamar berbeda. Tiga di antaranya diduga aktif menawarkan layanan Open Booking Online (BO) melalui aplikasi kencan. Dua lainnya berada di kamar bersama pasangan masing-masing.

Fakta yang mencuat cukup memprihatinkan. Salah satu perempuan yang dipesan melalui aplikasi diketahui masih berusia 17 tahun, sementara rekannya berusia 19 tahun. Seorang penghuni lain sempat menolak mengikuti tes dengan alasan bukan pekerja seks.

Di tengah proses pemeriksaan, Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, tiba di lokasi. Ia berdialog langsung dengan para penghuni kos, menanyakan identitas, latar belakang, hingga alasan mereka terlibat dalam praktik tersebut.

Menurut Dedy, peningkatan kasus HIV di Kota Bengkulu kini lebih banyak dipicu perilaku seksual berisiko, berbeda dengan pola lama yang dominan akibat penggunaan jarum suntik bergantian. Ia menyoroti usia para perempuan yang masih tergolong produktif bahkan di bawah umur.

“Kalau tidak kita antisipasi sekarang, penyebarannya bisa semakin cepat,” tegasnya.

Wali kota juga menegur Ketua RT setempat yang dinilai kurang peka terhadap aktivitas mencurigakan di lingkungannya. Ia meminta seluruh RT, lurah, dan camat lebih proaktif memastikan rumah kos tidak disalahgunakan menjadi tempat prostitusi terselubung.

Pemkot menegaskan kegiatan skrining ini merupakan bagian dari langkah pencegahan dan edukasi kesehatan masyarakat. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus menekan potensi penularan HIV di Kota Bengkulu.

Operasi tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah akan lebih agresif mengawasi praktik prostitusi daring yang dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kasus HIV, terutama di kalangan usia muda. ***

Reporter: Redaksi