KABARDARING.ID – Semangat kolaborasi dan penguatan ekonomi daerah menjadi fokus utama dalam Forum Bisnis Daerah (Forbisda) HIPMI Bengkulu 2026 yang digelar pada 27–28 April. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pengusaha muda, pemerintah, hingga perwakilan pusat, dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Bengkulu.
Ketua Umum BPD HIPMI Bengkulu, Yosia Yodan, menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai penggerak ekonomi daerah. Menurutnya, putra-putri Bengkulu harus mampu menjadi “tuan rumah di daerah sendiri” dengan terjun langsung sebagai pelaku usaha.
“Kita butuh kolaborasi, dukungan, dan jaringan yang kuat. Tidak bisa berjalan sendiri. Dengan kompetensi dan koneksi yang luas, kita bisa mendorong Bengkulu naik kelas,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi juga oleh etika, pengetahuan, serta jaringan. Yosia turut membagikan kisah pribadinya membangun usaha dari skala kecil hingga berkembang, yang menjadi motivasi bagi pengusaha muda untuk berkontribusi di daerah.
Sementara itu, Wakil Bendahara Umum BPP HIPMI, Sona Maesana, mengungkapkan bahwa Bengkulu memiliki potensi investasi yang besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan data triwulan I 2026, realisasi investasi di Bengkulu mencapai Rp2,6 triliun, yang didominasi sektor perkebunan, pangan, industri olahan, hingga pergudangan.
“Investasi masih terpusat di Kota Bengkulu. Padahal daerah lain memiliki potensi besar yang belum tergarap. Di sinilah peran HIPMI menjadi strategis untuk mendorong pemerataan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai langkah meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Menurutnya, Bengkulu tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi harus mampu mengolah produk di dalam negeri agar manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Forbisda juga menjadi ajang strategis untuk membuka peluang kerja sama internasional. Sona menyebutkan, kunjungan ke Jepang bersama pengurus HIPMI Bengkulu membuka peluang ekspor, khususnya komoditas kopi.
Ketua Organizing Committee Forbisda 2026, Masdi Hari Bowo, melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Bengkulu. Salah satu agenda utama adalah Business Plan Competition yang diikuti 43 peserta dengan total hadiah lebih dari Rp10 juta.
“Kegiatan ini melibatkan berbagai badan otonom HIPMI dan menjadi ruang kolaborasi antar pengusaha muda,” katanya.
Dari sisi pemerintah, Wakil Gubernur Bengkulu Mian yang mewakili Gubernur Helmi Hasan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum tersebut. Ia menilai Forbisda selaras dengan visi pembangunan daerah yang menekankan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Kami terus mendorong kemudahan investasi dan pembangunan infrastruktur. Salah satu langkah strategis adalah pengembangan kawasan industri Pulau Baai yang terintegrasi dengan pelabuhan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas unggulan Bengkulu, seperti kelapa sawit dan kopi, agar tidak lagi memberikan nilai tambah bagi daerah lain.
Pemerintah Provinsi Bengkulu, lanjutnya, tengah memperkuat konektivitas melalui rencana pembangunan jalan tol dan jalur kereta api yang terhubung ke Pelabuhan Pulau Baai, guna mendukung distribusi dan pertumbuhan industri.
Melalui Forbisda ini, seluruh pihak diharapkan tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi mampu melahirkan langkah konkret dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
“Forum ini harus menjadi ruang kolaborasi nyata untuk menciptakan pengusaha baru dan mendorong Bengkulu menjadi lebih maju,” tutupnya. ***
